Capek Ngonten? Saya Juga 😄

Tapi ternyata nilai sebuah konten tidak hanya sebesar uang yang dibayarkan platform.

Saya termasuk orang yang cukup lama membuat konten, terutama seputar roti.

Foto, video, Reels, Story, tulisan…

Kadang ramai.
Kadang sepi.
Kadang menghasilkan uang dari monetisasi.
Kadang sudah capek membuatnya, ternyata yang melihat cuma sedikit. 😄

Alhamdulillah, dari perjalanan itu saya mulai memahami satu hal:

Konten ternyata jauh lebih luas daripada sekadar apa yang kita posting di media sosial.

Website Juga Konten

Saya punya usaha roti Qsuka.

Ketika saya membuat halaman tentang produk roti di website Qsuka, tidak ada platform yang membayar saya karena halaman itu dilihat orang.

Tidak ada bayaran sekian rupiah untuk setiap 1.000 tayangan.

Tetapi orang bisa menemukan informasi tentang roti saya, melihat produknya, kemudian membeli.

Dan ketika konten membantu penjualan usaha yang nyata, nilainya bisa jauh lebih besar daripada uang yang saya terima langsung dari sebuah platform.

Dari sinilah cara pandang saya tentang konten mulai berubah.

Konten Tidak Harus Menghasilkan Uang Secara Langsung

Video adalah konten.

Foto adalah konten.

Tulisan di website juga konten.

Posting Facebook adalah konten.

Informasi yang kita bagikan melalui Saluran WhatsApp atau Telegram juga bisa menjadi konten.

Masing-masing mungkin mempunyai fungsi yang berbeda.

Ada yang menghasilkan uang secara langsung.

Ada yang mendatangkan pelanggan.

Ada yang membuat orang mengenal kita.

Ada yang membangun kepercayaan.

Ada yang mengarahkan orang menuju website.

Ada pula yang membuka sebuah peluang baru.

Jadi sekarang saya mulai mempunyai pertanyaan lain ketika membuat konten.

Bukan hanya:

“Konten ini dapat berapa view?”

atau:

“Konten ini menghasilkan uang berapa?”

Tetapi juga:

“Konten ini bisa menjadi Faktor Kali untuk apa?”

Satu Konten Bisa Bekerja Lebih dari Sekali

Misalnya saya membuat sebuah video tentang roti.

Video tersebut bisa menjadi Reel.

Sebagian bisa digunakan untuk Story.

Satu frame yang menarik bisa menjadi foto.

Ceritanya bisa menjadi tulisan.

Tulisan tersebut bisa mengarahkan orang ke website.

Website bisa membantu orang menemukan produk.

Dan orang yang puas dengan produknya bisa merekomendasikannya kepada orang lain.

Satu pekerjaan ternyata bisa mempunyai banyak kelanjutan.

Bagi saya, di situlah mulai muncul Faktor Kali.

Bukan berarti setiap konten pasti meledak.

Bukan pula berarti semuanya langsung menghasilkan uang.

Tetapi saya mulai belajar membuat apa yang sudah saya kerjakan hari ini mempunyai kemungkinan untuk tetap bekerja dan menghasilkan manfaat berikutnya.

Faktor Kali Tidak Hanya untuk Jualan

Saya menggunakan istilah Faktor Kali dalam arti yang cukup luas.

Ilmu bisa menjadi Faktor Kali ketika dibagikan.

Pelanggan bisa menjadi Faktor Kali ketika dengan sukarela merekomendasikan produk kita.

Website bisa menjadi Faktor Kali karena bisa terus memberikan informasi meskipun kita sedang mengerjakan hal lain.

Konten bisa menjadi Faktor Kali untuk membangun audiens.

Teknologi bisa menjadi Faktor Kali.

Bahkan jaringan manusia yang dibangun dengan baik juga bisa menjadi Faktor Kali.

Karena itulah belakangan saya juga banyak belajar tentang bagaimana konten, teknologi, usaha dan jaringan dapat saling membantu.

Salah satu yang sedang saya pelajari dan jalankan adalah Network Marketing BIMA.

Menurut saya potensinya sebagai Faktor Kali menarik karena bukan hanya mengandalkan pekerjaan satu orang, tetapi memungkinkan terbentuknya jaringan yang dapat bertumbuh dan saling mendukung.

Saya sendiri masih menjalani prosesnya.

Jadi saya belum ingin bercerita seolah-olah sudah sukses besar dari sana. 😄

Nanti kalau memang sudah ada hasil yang pantas diceritakan, insyaallah saya ceritakan apa adanya.

Saya Juga Masih Belajar

Saya membuat halaman ini bukan karena merasa sebagai guru konten.

Saya juga masih belajar.
Masih mencoba.
Masih salah.
Masih memperbaiki.

Dan masih merasakan bagaimana sebuah konten yang kita kira bagus ternyata sepi. 😄

Tetapi saya memang sudah cukup lama menjalani dunia konten secara nyata.

Akun Facebook pribadi/profesional saya, Mufli Abe, saat ini sudah mempunyai lebih dari seratus ribu pengikut.

Sebagian besar tumbuh dari konten yang saya buat selama bertahun-tahun, terutama tentang roti.

Bagi saya itu bukan angka untuk mengatakan bahwa saya sudah hebat.

Setidaknya itu bukti kecil bahwa saya memang benar-benar ngonten. 😄

👉 Lihat Facebook Mufli Abe

Yuk, Kita Bangun Faktor Kali

Page Facebook Faktor Kali justru masih sangat baru.

Pengikutnya juga masih sedikit.

Saya sengaja menyebutkannya apa adanya karena saya sendiri ingin melihat bagaimana Page kecil ini bertumbuh dari waktu ke waktu.

Di sana saya akan berbagi sedikit demi sedikit tentang hal-hal yang menurut saya bisa menjadi Faktor Kali:

konten, usaha, pelanggan, website, teknologi, jaringan, Network Marketing, dan berbagai pengalaman yang saya temui sendiri.

Kalau Anda seorang konten kreator, pemilik usaha, networker, atau sekadar tertarik membuat apa yang sudah kita kerjakan mempunyai dampak yang lebih panjang…

silakan ikut perjalanan ini.

👉 Ikuti Page Faktor Kali

Kita tidak harus selalu bekerja lebih banyak.

Barangkali kita hanya perlu mulai menemukan:

Apa Faktor Kali kita? 😄

Jadilah Faktor Kali. Bagikan jika bermanfaat😊